Label

Kamis, 19 Februari 2015

KARAKTERISTIK FISIK GUNUNGKIDUL

KARAKTERISTIK FISIK KABUPATEN GUNUNGKIDUL
Karakteristik Fisik Kabupaten Gunungkidul

Posisi Geografis

Kabupaten Gunungkidul adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi DI Yogyakarta. Secara geografis, Kabupaten Gunungkidul terletak di 110 ̊21' - 110 ̊50' bujur timur dan 7 ̊46' – 8 ̊09' lintang selatan. Kabupaten Gunungkidul terletak di bagian selatan Provinsi DI Yogyakarta. Berikut ini adalah batas-batas wilayah Kabupaten Gunungkidul :
Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul adalah 1.485,36 km2 atau sekitar 46,63 % dari luas  wilayah Provinsi DI Yogyakarta. Ibukota Kabupaten Gunungkidul yaitu Kota Wonosari. Kota Wonosari terletak di sebelah tenggara Kota Yogyakarta dengan jarak ±39 km. Kabupaten Gunungkidul terdiri dari 18 kecamatan, 144 desa, 1416 dusun, 1583 RW, dan 6844 RT. Kecamatan yang ada di Kabupaten Gunungkidul antara lain Kecamatan Panggang, Purwosari, Paliyan, Saptosari, Tepus, Tanjungsari, Rongkop, Girisubo, Semanu, Ponjong, KarangMojo, Wonosari, Playen, Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, dan Semin. 
Berdasarkan tipologinya, Kabupaten Gunungkidul terbagi menjadi tiga zona dengan arah pengembangan yang berbeda-beda, yaitu:
a. Zona Utara (Zona Batur Agung) memiliki ketinggian 200-700 mdpal. Bentang alamnya berbukit-bukit dan terdapat sungai di atas permukaan tanah. Arah pengembangan zona utara yaitu ke bidang pertanian serta sebagai daerah konservasi sumber daya air. Zona utara terdiri dari Kecamatan Patuk, Nglipar, Gedangsari, Ngawen, Semin, dan Ponjong Utara.
b. Zona Tengah (Zona Ledoksari) memiliki ketinggian 150-200 mdpal. Terdapat sungai di atas tanah meskipun airnya kering saat musim kemarau, namun masih terdapat sumber mata air dan terdapat air tanah yang dapat digali pada kedalaman 60-120 meter dari permukaan tanah. Zona tengah diarahkan untuk pengembangan pertanian, eko-wisata, industri rumah tangga dan manufaktur, taman hutan rakyat, serta wisata pra sejarah. Zona tengah terdiri dari Kecamatan Playen Selatan, Paliyan Utara, Wonosari, Karangmojo, Semanu Utara, dan Ponjong Selatan.
c.  Zona Selatan (Zona Karst Gunungsewu) dengan ketinggian 100-300 mdpal. Keadannya berbukit-bukit kapur serta banyak telaga genangan air hujan, tidak terdapat sungai di atas tanah namun banyak ditemukan sungai bawah tanah. Arah pengembangan zona selatan adalah untuk budidaya pertanian lahan kering, perikanan laut, ekowisata karst, serta akomodasi wisata seperti penginapan, hotel, dan restoran. Zona selatan terdiri dari Kecamatan Purwosari, Rongkop, Panggang, Paliyan Selatan, Saptosari, Semanu Selatan, Tanjungsari, Tepus, dan Girisubo.
Karakteristik Fisik Alam Wilayah
TOPOGRAFI
Kabupaten Gunungkidul memiliki topografi karst yang terbentuk dari proses pelarutan batuan kapur. Bentang alam ini dikenal sebagai Kawasan Karst Pegunungan Sewu yang bentangnya meliputi wilayah Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan. Bentang alam pegunungan menyebabkan lahan di Kabupaten Gunungkidul mempunyai tingkat kemiringan yang bervariasi. 
KLIMATOLOGI

Secara klimatologi, curah hujan rata-rata Kabupaten Gunungkidul sebesar 1720,86 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata 115 hari per tahun. Bulan basah 4–6 bulan, sedangkan bulan kering berkisar antara 4–5 bulan. Musim hujan dimulai pada bulan Oktober–November dan berakhir pada bulan Mei-Juni setiap tahunnya. Puncak curah hujan dicapai pada bulan Desember–Februari. Wilayah Kabupaten Gunungkidul bagian utara merupakan wilayah yang memiliki curah hujan paling tinggi dibanding wilayah tengah dan selatan, sedangkan wilayah Gunungkidul selatan mempunyai awal hujan paling akhir. Berikut ini adalah peta curah hujan di Kabupaten Gunungkidul
Di Kabupaten Gunungkidul terdapat dua daerah aliran sungai (DAS) permukaan, yaitu DAS Opak-Oya dan DAS Dengkeng. Masing-masing DAS tersebut terdiri dari beberapa Sub DAS yang berfungsi untuk mengairi areal pertanian. Selain itu juga terdapat DAS bawah permukaan, yaitu DAS Bribin. Air pemukaan (sungai dan mata air) banyak dijumpai di Gunungkidul wilayah utara dan tengah. Di wilayah tengah beberapa tempat memiliki air tanah yang cukup dangkal dan dimanfaatkan untuk sumur ladang. Keadaan klimatologi dan keterbatasan supply air menyebabkan terganggunya aktivitas pertanian terutama pertanian yang membutuhkan cukup banyak air seperti tanaman padi. Selain itu, keterbatasan sumber mata air permukaan menyebabkan beberapa wilayah di Kabupaten Gunungkidul menjadi kekurangan sumber air.
JENIS TANAH


Pada Kabupaten Gunungkidul terdapat 5 macam jenis tanah, yaitu Mediteran, Litosol, Latosol, Grumosol, dan Rendzina. Berikut adalah tabel dan peta jenis tanah di Kabupaten Gunungkidul:

No.
Jenis Tanah
Deskripsi
1.
Mediteran
Tanahnya tidak subur, terbentuk dari pelapukan batu kapur, terdapat masalah dalam ketersediaan air.
2.
Regosol
Tanah berbukit kasar berasal dari material gunung api. Tanah ini sangat cocok untuk ditanami padi, tebu, palawija, tembakau dan sayuran.
3.
Latosol
Berwarna merah hingga kuning, Tanah ini cocok untuk tanaman palawija, padi, kelapa, karet, kopi, dll
4.
Gromosol
Terbentuk dari material halus berlempung. Berwarna kelabu hitam dan bersifat subur.
5.
Rendzina
Tanah ini merupakan hasil pelapukan batuan kapur di daerah dengan curah hujan tinggi. Ciri tanah ini yaitu berwarna hitam dan miskin zat hara.
KARAKTERISTIK PENGGUNAAN LAHAN

Penggunaan lahan di Kabupaten Gunungkidul terdiri dari lahan sawah sebesar 7.865Ha, lahan pekarangan/bangunan sebesar 25.419Ha, lahan tegalan/ladang/kebun sebesar 67.199Ha, lahan kolam/tambak sebesar 103Ha, lahan hutan rakyat sebesar 24.968Ha, lahan hutan negara sebesar 13.717Ha dan lahan yang belum difungsikan sebesar 9.265Ha. Penggunaan lahan yang paling mendominasi di Kabupaten Gunungkidul adalah lahan tegalan/ladang/kebun. Penggunaan lahan sebagai tegalan/ladang/kebun tersebut dikarenakan mayoritas penduduk Kabupaten Gunungkidul bekerja di bidang pertanian. Hal itu menunjukkan bahwa lahan terbangung yang ada di Kabupaten Gunungkidul lebih sedikit dibandingkan dengan lahan non terbangun.  
Dilihat dari Peta Tata Guna Lahan, dapat diketahui bahwa pemukiman warga mayoritas berada di Kabupaten Gunungkidul bagian utara, terutama di Kecamatan Wonosari, Kecamatan Karangmojo, Kecamatan Playen, Kecamatan Nglipar dan Kecamatan Semanu. Sesuai dengan Perda No.6 Tahun 2011 yang mengatur tentang RTRW Kabupaten Gunungkidul, Kecamatan Wonosari merupakan kawasan Pusat Kegiatan Wilayah Promosi sabagai pusat distribusi barang regional. Kecamatan Wonosari juga dilalui oleh jalur regional provinsi yaitu jalur Yogya-Wonosari. Hal itu menyebabkan Kecamatan Wonosari berkembang dengan cukup pesat menjadi daerah perkotaan dan menjadi salah satu pusat pemukiman padat. Kecamatan Karangmojo, Kecamatan Playen, Kecamatan Nglipar dan Kecamatan Semanu merupakan Pusat Kegiatan Lokal di mana terdapat pusat-pusat kegiatan ekonomi yang berskala lokal sehingga banyak penduduk yang memilih bertempat tinggal di kecamatan-kecamatan tersebut. Sedangkan Kabupaten Gunungkidul bagian selatan masih jarang ditemui pemukiman penduduk karena kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung

 KARAKTERISTIK FISIK KABUPATEN GUNUNGKIDUL
Karakteristik Fisik Kabupaten Gunungkidul

Posisi Geografis

Kabupaten Gunungkidul adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi DI Yogyakarta. Secara geografis, Kabupaten Gunungkidul terletak di 110 ̊21' - 110 ̊50' bujur timur dan 7 ̊46' – 8 ̊09' lintang selatan. Kabupaten Gunungkidul terletak di bagian selatan Provinsi DI Yogyakarta. Berikut ini adalah batas-batas wilayah Kabupaten Gunungkidul :
Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul adalah 1.485,36 km2 atau sekitar 46,63 % dari luas  wilayah Provinsi DI Yogyakarta. Ibukota Kabupaten Gunungkidul yaitu Kota Wonosari. Kota Wonosari terletak di sebelah tenggara Kota Yogyakarta dengan jarak ±39 km. Kabupaten Gunungkidul terdiri dari 18 kecamatan, 144 desa, 1416 dusun, 1583 RW, dan 6844 RT. Kecamatan yang ada di Kabupaten Gunungkidul antara lain Kecamatan Panggang, Purwosari, Paliyan, Saptosari, Tepus, Tanjungsari, Rongkop, Girisubo, Semanu, Ponjong, KarangMojo, Wonosari, Playen, Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, dan Semin. 
Berdasarkan tipologinya, Kabupaten Gunungkidul terbagi menjadi tiga zona dengan arah pengembangan yang berbeda-beda, yaitu:
a. Zona Utara (Zona Batur Agung) memiliki ketinggian 200-700 mdpal. Bentang alamnya berbukit-bukit dan terdapat sungai di atas permukaan tanah. Arah pengembangan zona utara yaitu ke bidang pertanian serta sebagai daerah konservasi sumber daya air. Zona utara terdiri dari Kecamatan Patuk, Nglipar, Gedangsari, Ngawen, Semin, dan Ponjong Utara.
b. Zona Tengah (Zona Ledoksari) memiliki ketinggian 150-200 mdpal. Terdapat sungai di atas tanah meskipun airnya kering saat musim kemarau, namun masih terdapat sumber mata air dan terdapat air tanah yang dapat digali pada kedalaman 60-120 meter dari permukaan tanah. Zona tengah diarahkan untuk pengembangan pertanian, eko-wisata, industri rumah tangga dan manufaktur, taman hutan rakyat, serta wisata pra sejarah. Zona tengah terdiri dari Kecamatan Playen Selatan, Paliyan Utara, Wonosari, Karangmojo, Semanu Utara, dan Ponjong Selatan.
c.  Zona Selatan (Zona Karst Gunungsewu) dengan ketinggian 100-300 mdpal. Keadannya berbukit-bukit kapur serta banyak telaga genangan air hujan, tidak terdapat sungai di atas tanah namun banyak ditemukan sungai bawah tanah. Arah pengembangan zona selatan adalah untuk budidaya pertanian lahan kering, perikanan laut, ekowisata karst, serta akomodasi wisata seperti penginapan, hotel, dan restoran. Zona selatan terdiri dari Kecamatan Purwosari, Rongkop, Panggang, Paliyan Selatan, Saptosari, Semanu Selatan, Tanjungsari, Tepus, dan Girisubo.
Karakteristik Fisik Alam Wilayah
TOPOGRAFI
Kabupaten Gunungkidul memiliki topografi karst yang terbentuk dari proses pelarutan batuan kapur. Bentang alam ini dikenal sebagai Kawasan Karst Pegunungan Sewu yang bentangnya meliputi wilayah Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan. Bentang alam pegunungan menyebabkan lahan di Kabupaten Gunungkidul mempunyai tingkat kemiringan yang bervariasi. 

KLIMATOLOGI

Secara klimatologi, curah hujan rata-rata Kabupaten Gunungkidul sebesar 1720,86 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata 115 hari per tahun. Bulan basah 4–6 bulan, sedangkan bulan kering berkisar antara 4–5 bulan. Musim hujan dimulai pada bulan Oktober–November dan berakhir pada bulan Mei-Juni setiap tahunnya. Puncak curah hujan dicapai pada bulan Desember–Februari. Wilayah Kabupaten Gunungkidul bagian utara merupakan wilayah yang memiliki curah hujan paling tinggi dibanding wilayah tengah dan selatan, sedangkan wilayah Gunungkidul selatan mempunyai awal hujan paling akhir. Berikut ini adalah peta curah hujan di Kabupaten Gunungkidul
Di Kabupaten Gunungkidul terdapat dua daerah aliran sungai (DAS) permukaan, yaitu DAS Opak-Oya dan DAS Dengkeng. Masing-masing DAS tersebut terdiri dari beberapa Sub DAS yang berfungsi untuk mengairi areal pertanian. Selain itu juga terdapat DAS bawah permukaan, yaitu DAS Bribin. Air pemukaan (sungai dan mata air) banyak dijumpai di Gunungkidul wilayah utara dan tengah. Di wilayah tengah beberapa tempat memiliki air tanah yang cukup dangkal dan dimanfaatkan untuk sumur ladang. Keadaan klimatologi dan keterbatasan supply air menyebabkan terganggunya aktivitas pertanian terutama pertanian yang membutuhkan cukup banyak air seperti tanaman padi. Selain itu, keterbatasan sumber mata air permukaan menyebabkan beberapa wilayah di Kabupaten Gunungkidul menjadi kekurangan sumber air.
JENIS TANAH


Pada Kabupaten Gunungkidul terdapat 5 macam jenis tanah, yaitu Mediteran, Litosol, Latosol, Grumosol, dan Rendzina. Berikut adalah tabel dan peta jenis tanah di Kabupaten Gunungkidul:

No.
Jenis Tanah
Deskripsi
1.
Mediteran
Tanahnya tidak subur, terbentuk dari pelapukan batu kapur, terdapat masalah dalam ketersediaan air.
2.
Regosol
Tanah berbukit kasar berasal dari material gunung api. Tanah ini sangat cocok untuk ditanami padi, tebu, palawija, tembakau dan sayuran.
3.
Latosol
Berwarna merah hingga kuning, Tanah ini cocok untuk tanaman palawija, padi, kelapa, karet, kopi, dll
4.
Gromosol
Terbentuk dari material halus berlempung. Berwarna kelabu hitam dan bersifat subur.
5.
Rendzina
Tanah ini merupakan hasil pelapukan batuan kapur di daerah dengan curah hujan tinggi. Ciri tanah ini yaitu berwarna hitam dan miskin zat hara.

KARAKTERISTIK PENGGUNAAN LAHAN

Penggunaan lahan di Kabupaten Gunungkidul terdiri dari lahan sawah sebesar 7.865Ha, lahan pekarangan/bangunan sebesar 25.419Ha, lahan tegalan/ladang/kebun sebesar 67.199Ha, lahan kolam/tambak sebesar 103Ha, lahan hutan rakyat sebesar 24.968Ha, lahan hutan negara sebesar 13.717Ha dan lahan yang belum difungsikan sebesar 9.265Ha. Penggunaan lahan yang paling mendominasi di Kabupaten Gunungkidul adalah lahan tegalan/ladang/kebun. Penggunaan lahan sebagai tegalan/ladang/kebun tersebut dikarenakan mayoritas penduduk Kabupaten Gunungkidul bekerja di bidang pertanian. Hal itu menunjukkan bahwa lahan terbangung yang ada di Kabupaten Gunungkidul lebih sedikit dibandingkan dengan lahan non terbangun.  
Dilihat dari Peta Tata Guna Lahan, dapat diketahui bahwa pemukiman warga mayoritas berada di Kabupaten Gunungkidul bagian utara, terutama di Kecamatan Wonosari, Kecamatan Karangmojo, Kecamatan Playen, Kecamatan Nglipar dan Kecamatan Semanu. Sesuai dengan Perda No.6 Tahun 2011 yang mengatur tentang RTRW Kabupaten Gunungkidul, Kecamatan Wonosari merupakan kawasan Pusat Kegiatan Wilayah Promosi sabagai pusat distribusi barang regional. Kecamatan Wonosari juga dilalui oleh jalur regional provinsi yaitu jalur Yogya-Wonosari. Hal itu menyebabkan Kecamatan Wonosari berkembang dengan cukup pesat menjadi daerah perkotaan dan menjadi salah satu pusat pemukiman padat. Kecamatan Karangmojo, Kecamatan Playen, Kecamatan Nglipar dan Kecamatan Semanu merupakan Pusat Kegiatan Lokal di mana terdapat pusat-pusat kegiatan ekonomi yang berskala lokal sehingga banyak penduduk yang memilih bertempat tinggal di kecamatan-kecamatan tersebut. Sedangkan Kabupaten Gunungkidul bagian selatan masih jarang ditemui pemukiman penduduk karena kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung
sumber: studio3gunngkidul.blogspot..com

Selasa, 27 Januari 2015

PATTIMURA ATAU THOMAS MATULESSY

Thomas Matulessy (Pattimura) di Maluku
Rakyat Maluku telah lama
mengalami penindasan dari bangsa
Portugis, Spanyol dan Belanda
sejak abad ke-16. Rakyat Maluku
sadar betul apa makna penjajahan
yang selama ini dialaminya. Betapa
hebatnya penderitaan rakyat
Maluku ketika masa Pelayaran
Hongi.
Rakyat Maluku semakin
gelisah ketika adanya paksaan
untuk menjadi serdadu (tentara)
Belanda yang akan dikirimkan ke
Pulau Jawa. Kesabaran rakyat
Maluku telah habis. Mereka pun
segera berencana untuk melancarkan
perlawanan.
Pada tanggal 3 Mei 1817, ratusan pemuda dari Haria mengadakan
pertemuan di dalam hutan yang terletak antara negeri Tiow dan negeri
Paperu. Pertemuan itu memutuskan untuk menyerang dan menyerbu
Benteng Duurstede di Pantai Saparua yang merupakan lambang
penjajahan Belanda. Pertemuan itu juga memutuskan untuk mengajak
seluruh rakyat Maluku untuk melawan penjajahan Belanda.
Rakyat Maluku bangkit menentang Belanda pada tanggal 16 Mei 1817
di bawah pimpinan Pattimura. Beliau adalah seorang Kristen yang taat,
pandai dan cekatan. Dilahirkan pada tanggal 8 Juni 1783 dengana nama
Thomas Matulessy. Ia pernah menjadi tentara Inggris dengan pangkat
sersan mayor. Kemudian ia terkenal dengan sebutan Kapitan Pattimura.
Di dalam pertempuran itu semua penghuni benteng mati terbunuh.
Benteng dihancurkan, bahkan Residen Belanda yang bernama Van den
Berg tewas dalam peristiwa itu.
Kemudian Belanda mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Mayor
Beetjes. Begitu pasukan bantuan itu mendarat di Muara Sungai Waisisil,
langsung dipukul mundur oleh Pattimura. Mayor Beetjes tewas dalam
pertempuran tersebut. Pasukan Belanda lainnya yang dipimpin Overste
Meyer dan Laksamana Buykes juga dapat dipukul mundur.
Gambar 2.2 Patimura
Sumber: Album Pahlawan Bangsa
104
Ilmu Pengetahuan Sosial SD dan MI Kelas V
Raja-raja kecil di Maluku turut membantu perjuangan Pattimura,
seperti Raja Lha, Nolot, Tuhaja, Itawaku dan Ihamaku. Selain itu juga
Pattimura dibantu oleh Philip Latumahimma dan seorang putri raja
Maluku yang bernama Martha Khristina Tiahahu yang berusia 18 tahun.
Belanda merasa kewalahan dengan perlawanan dari pasukan
Pattimura ini. Lalu, Belanda mengajak Pattimura untuk berunding, namun
ditolaknya dengan tegas. Belanda semakin meningkatkan serangannya
untuk mendesak Pattimura. Akibatnya beberapa pimpinan pasukan
Pattimura dapat ditangkap. Pattimura juga akhirnya dapat ditangkap,
beliau dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung di depan Benteng
Viktoria pada tanggtal 16 Desember 1817. Penangkapan Pattimura
disebabkan adanya pengkhianatan dari Raja Boi. Ia menunjukkan tempat
pertahanan Pattimura kepada Belanda.
Begitu juga dengan Raja Paulus Tiahahu, ayah Martha Khristina
Tiahahu ditembak mati di hadapan rakyatnya. Martha Khristina Tiahahu
sendiri diasingkan ke Pulau Jawa, namun sebelum sampai di Pulau Jawa
beliau wafat, yaitu pada tanggal 2 Januari 1818.

Senin, 26 Januari 2015

EMPATI

                                                       EMPATI
*      Pemgetian Empati
Empati adalah keadaan mental yang membuat orang merasa dirinya dalam keadaan, perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain. Dalam istilah lain,empati dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyadari diri sendiri atas perasaan seseorang, lalu bertindak untuk membantunya.

*      Dasar Hukum atau Perintah

a.    Al-Quran
sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. an-Nis±/4: 8.


“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya)

Ayat tersebut menjelaskan apabila ada kerabat, anak yatim, dan orang miskin yang ikut menyaksikan pembagian warisan, maka mereka diberi bagian sekadarnya sebagai atau tali kasih. Kepedulian terhadap mereka perlu ditumbuhkan.
Sikap empati ini akan timbul apabila:
1. Dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain,
2. Mampu menempatkan diri sebagai orang lain, dan
3. Menjadi orang lain yang merasakan.



b.    Al-Hadist

Rasulullah saw. bersabda.









                                       `        

“Dari Abi Musa r.a. dia berkata, Rasulullah  saw. bersabda, ‘Orang mukmin yang  satu  dengan  yang  lain  bagai  satu  bangunan  yang  bagian-bagiannya saling mengokohkan. (H.R. Bukhari)

Hadis di atas, secara tidak langsung mengajarkan kepada kita untuk bisa
merasakan apa yang dirasakan orang mukmin yang lain. Apabila ia sakit, kita pun
merasa sakit. Apabila ia gembira, kita pun merasa gembira.

*      Mengapa Kita Harus Menghormati dan Berempati Kepada Orang tua
                                                                                                                 
Karena jasa mereka besar sehingga kamu tidak akan mampu menghitungnya, antara lain:

1. Ibu mengandung dengan penuh susah payah, dan melahirkan dengan
    mempertaruhkan nyawanya;
2. Ibu menyusui selama dua tahun dengan penuh kasih sayang dan terjaga malam
    hari karena memenuhi kebutuhan anaknya;
3. Ibu dan ayah memelihara kita sehingga kita siap untuk hidup mandiri;
4. Ayah dan ibu bekerja keras untuk memenuhi keperluan keluarga;
5. Ayah dan ibu memberi bekal pendidikan;
6. Ayah dan ibu memberikan kasih sayang dengan ikhlas tanpa meminta balasan.

Begitu besar jasa orang tua sehingga kita sebagai anak wajib hukumnya berbuat
baik kepada keduanya. Allah Swt. memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada
keduanya, sebagaimana firman-Nya

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orangorang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.”
(Q.S. al-Baqarah/2: 83)

*      Contoh Perilaku Hormat kepada Orangtua

Perilaku menghormati kedua orang tua dapat diwujudkan dengan cara berikut ini.
1. Ketika orang tua masih hidup:
a. Memperlakukan keduanya dengan sopan dan hormat;
b. Membantu pekerjaanya;
c. Mengikuti nasihatnya (apabila nasihat itu baik);
d. Membahagiakan keduanya.
2. Ketika orang tua sudah meninggal;
      a. Jika keduanya muslim, kamu dapat mendoakan mereka setiap saat agar
    mendapat ampunan Allah Swt;




*      Perilaku Empati yang Sudah Dilaksanakan

a.    Kepada Ibu:

Oleh Syahid: Menghormati Ibu, membantu ibu melaksanakan sebagian kecil tugasnya seperti    menyapu, dll,

Oleh Deva: Menghormati, membantu memasak;menyapu;mengepel;cuci baju;cuci piring, membelikan keperluan masak, dll

Oleh Chanin: Membantu memasak,membersihkan rumah,menjaga adik,mencuci piring,mengepel,menyetrika pakaian,dll

Oleh Salsa: Menghormati bu, membantu memasak, membantu mencuci pakaian, mencuci piring, menyeterika pakaian, membelikan bumbu2 masak, dll

Oleh Zia: Menghormati ibu, membantu memesak, mencuci piring, menyapu rumah, mengepel, dll.

b.    Kepada Ayah

Oleh Syahid: Menghormati Bapak, Berusaha tidak membuat jengkel bapak, membatu sedikit pekerjaan dari bapak, dll.

Oleh Deva: Memebuatkan teh manis panas untuk ayah bila pulang dari bekerja, memijit ayah jika ayah capek dari bekerja, dll

Oleh Chanin: Membuatkan makanan atau minuman saat ayah pulang bekerja,menghormati ayah,tidak membuat ayah marah.

Oleh Salsa: Menghormati ayah, membuatkan minuman saat ayah pulang bekerja, membantu mengerjakan tugas ayah, dll

Oleh Zia: Menghormati ayah, membantu menyapu halaman, membuatkan minuman saat ayah pulang, dll.
















*      Mengapa Kita Harus Menghormati dan Empati Dengan Guru

Kita harus menghormati guru karena guru juga merupakan orangtua kita di sekolah. Guru juga telah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada kita dengan ikhlas. Jadi sudah sepantasnya kita harus menghormati dan empati kepada guru.

*      Contoh Perilaku Empati Kepada Guru

Cara berbakti kepada guru, antara lain dengan bersikap:

1. Mengucapkan salam apabila bertemu;
2. Memperhatikan apabila diajak bicara di dalam dan di luar kelas
3. Rendah hati, sopan, dan menghargai;
4. Melaksanakan nasihatnya;
5. Melaksanakan tugas belajar dengan ikhlas.


*      Perilaku Empati yang Sudah Dilaksanakan

1.    Mendengarkan guru saat berbicara.
2.    Memperhatikan guru saat menerangkan.
3.    Tidak ramai saat diberi tugas oleh guru.
4.    Mengerjakan tugas dengan baik.





Di buat oleh : kelompok 1
1.    Chanindya Norma Azhari       (07)
2.    Khairunissa Nurul Fauzia        (15)
3.    M. Ilham Setya Deva              (17)
4.    Salsabila Anur Shafa              (21)

5.    Syahid Nurrohim                     (23)